Belajar dari Mie Gacoan, Hisana Fried Chicken, dan Almaz Fried Chicken
UKM, Tren, dan Pertumbuhan yang Mengejutkan
Beberapa tahun terakhir, dunia kuliner Indonesia diramaikan oleh merek-merek yang tumbuh pesat. Mie Gacoan hadir dengan konsep mie pedas murah meriah yang selalu dipenuhi antrean. Hisana Fried Chicken bertahan sebagai ayam goreng rakyat dengan ribuan gerai franchise yang tersebar dekat perumahan dan pasar. Sementara Almaz Fried Chicken — yang dikenal juga sebagai Ayam Goreng Saudi — melonjak cepat berkat rasa khas Timur Tengah, ditambah momentum sosial berupa sentimen pro-Palestina dan boikot terhadap brand global tertentu.
Ketiganya memiliki latar belakang berbeda, tapi mereka sama-sama berhasil mengembangkan bisnis dengan mengoptimalkan empat pilar utama yang disebut Business Growth Model: Manajemen–Leadership, Sales, Marketing, dan Financial.
Mie Gacoan: Viral Marketing dan Manajemen yang Rapi
Siapa yang tidak tahu antrean panjang di gerai Mie Gacoan? Rahasia mereka bukan sekadar harga Rp10–15 ribuan atau menu dengan nama nyeleneh seperti Mie Setan dan Mie Iblis. Gacoan sukses karena punya manajemen operasional yang sangat rapi. Dari dapur hingga antrean, semuanya distandarkan. Itulah sebabnya pengalaman makan di Surabaya terasa sama dengan di Medan.
Ditambah lagi, strategi pemasaran mereka berbasis tren viral. Anak muda gemar membagikan konten makan pedas atau suasana antrean di TikTok dan Instagram. Tanpa biaya iklan besar, Mie Gacoan sudah jadi pembicaraan nasional. Volume penjualan yang tinggi, ditambah reinvestasi keuntungan untuk buka cabang, membuat Gacoan jadi contoh UKM yang bisa naik kelas dengan cepat.
Hisana Fried Chicken: Franchise Rakyat yang Konsisten
Berbeda dengan Gacoan yang menyasar anak muda, Hisana Fried Chicken tumbuh di segmen bawah dengan strategi “ayam goreng enak, harga rakyat, lokasi dekat rumah.” Gerainya hadir di perumahan, pasar, dan jalan raya, bukan di mal mewah.
Kekuatan Hisana ada pada sistem franchise. Dengan modal yang relatif kecil, banyak orang bisa menjadi mitra dan membuka outlet. Perusahaan induk mendapat keuntungan dari penjualan bahan baku dan royalti, sementara mitra merasakan dampak langsung dari brand yang sudah dikenal luas.
Pemasaran Hisana sederhana, tanpa gimmick digital berlebihan. Tapi justru konsistensi positioning mereka membuat konsumen percaya. Di segmen bawah, keandalan rasa, harga, dan akses lebih penting daripada tren sesaat.
Almaz Fried Chicken: Cultural Branding di Tengah Momentum Sosial
Almaz Fried Chicken adalah contoh unik bagaimana momentum sosial bisa mengakselerasi pertumbuhan UKM. Dengan mengusung identitas Saudi, Almaz menawarkan ayam goreng berbumbu khas Timur Tengah yang jarang ditemui di pasar.
Namun yang membuat pertumbuhannya luar biasa cepat adalah sentimen pro-Palestina dan boikot terhadap brand global yang dianggap berafiliasi dengan Israel. Konsumen Muslim mencari alternatif yang tidak hanya halal, tapi juga punya nilai ideologis. Almaz hadir tepat waktu: membeli ayam goreng di Almaz terasa seperti statement dukungan pada Palestina sekaligus kebanggaan mengonsumsi produk Muslim.
Kombinasi diferensiasi rasa, cultural branding, dan momentum sosial ini membuat outlet Almaz tumbuh masif. Word of mouth menyebar cepat, arus kas mengalir deras, dan ekspansi cabang bisa berjalan tanpa harus bergantung pada modal eksternal besar.
Benang Merah: Empat Pilar yang Tak Bisa Dipisahkan
Meski jalannya berbeda, ketiga brand ini menunjukkan pola yang sama: sukses tidak datang hanya dari produk, tapi dari integrasi empat pilar Business Growth Model.
- Manajemen–Leadership: Gacoan dengan sistem rapi, Hisana dengan empowerment franchise, Almaz dengan kepemimpinan kontekstual.
- Sales: Gacoan lewat volume tinggi, Hisana lewat lokasi strategis, Almaz lewat komunitas dan sentimen ideologis.
- Marketing: Gacoan lewat tren viral, Hisana lewat konsistensi sederhana, Almaz lewat cultural branding yang relevan.
- Financial: Semua menjaga arus kas positif dengan model berbeda: reinvestasi, franchise, hingga momentum permintaan.
Pelajaran untuk UKM Lain
Dari Gacoan kita belajar pentingnya standarisasi dan tren viral, dari Hisana kekuatan aksesibilitas dan franchise, dan dari Almaz kekuatan narasi identitas dan momentum sosial. Tidak ada satu jalur tunggal menuju pertumbuhan, tapi ada satu prinsip yang sama: keseimbangan antara manajemen, penjualan, pemasaran, dan keuangan.
UKM mana pun bisa tumbuh bila mampu menggabungkan empat pilar ini sesuai konteks. Dan ketika momentum eksternal mendukung, pertumbuhan bisa melesat lebih cepat dari yang dibayangkan.
Harman Dahsyat – IHD Consulting
